Sabtu, 04 Juli 2015

Nuansa Warna di Yellowstone Berubah Jadi Hijau

Sebuah kolam air panas yang indah di Taman Nasional Yellowstone dan berlokasi di Wyoming - Amerika Serikat telah berubah warna dari biru kristal menjadi hijau terang dengan rona kekuningan. Hal ini ditengarai sebagai akibat  dari tindakan wisatawan yang melempar koin di dalamnya selama bertahun-tahun.


Keajaiban alam yang juga disebut Morning Glory itu  telah berubah warna selain karena akumulasi koin, juga karena sampah dan puing-puing alami. Tetapi julukan itu kemudian berubah menjadi Fading Glory karena perubahan mencolok itu terjadi sejak tahun 1950.



Hampir tiga juta wisatawan datang berduyun-duyun ke taman nasional ini setiap tahunnya dan banyak dari mereka yang melempar koin dan batu ke mata air dengan berharap keberuntungan yang bertambah.

 
Tetapi vandalisme yang tidak disengaja itu telah menyebabkan Morning Glory ini menjadi korban karena menyumbat ventilasi dan memperlambat sirkulasi air. Akibatnya suhu air turun dan dikirim bakteri berwarna oranye menuju pusat kolam.


Wisata Yellowstone National Park ini juga sangat terkenal akan geyser . Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, pun ada di sini. Selain itu di sini juga ada beberapa satwa liar seperti beruang grizzly, serigala, bison dan rusa.


Wisata ini  merupakan taman yang unik dengan keindahan alamnya yang mencakup area seluas 3468 km persegi (8983 km ²) dan terdiri dari danau, lembah, air terjun, sungai dan pegunungan.



Taman Nasional yang diresmikan pada tanggal 1 Maret 1872 oleh  Presiden Ulysses S. Grant ini pun menjadi salah satu taman yang terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1979.
Taman Nasional  Yellowstone National Park merupakan taman yang unik dengan keindahan alamnya. Diresmikan pada tanggal 1 Maret 1872 oleh presiden  Presiden Ulysses S. Grant.

Taman Nasional ini pun menjadi salah satu taman yang terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1979.
Taman Nasional Yellowstone National Park lebih tepat bertengger di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho. Luas yang diduduki taman ini mencakup area seluas 3468 km persegi (8983 km ²) dan terdiri dari danau, lembah, air terjun, sungai dan pegunungan.
- See more at: http://www.griyawisata.com/internasional/america/artikel/megafauna-di-taman-nasional-yellowstone-national-park#sthash.teAFXI8z.dpuf





 



 






Jumat, 03 Juli 2015

Nuansa Serba Warna Pink Di Masjid Dumaikon

Ada banyak masjid di dunia dengan berbagai kisah dan gaya arsitektur bangunannya. Salah satunya adalah Masjid Dimaukom. Masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Pink karena sesuai dengan namanya, semua bagian bangunan di masjid semuanya berwarna pink.


Mulai dari pagar, menara, kubah, dan interior di dalamnya semuanya berwarna pink.Bahkan banyak jamaah masjid ini yang juga mengenakan pakaian warna pink untuk beribadah di sana.Tentu hal itu sangat unik, langka dan menarik . 


Kalaupun ada warna lain berupa emas dan perak di berbagai ornamennya terasa tenggelam oleh semaraknya warna pink.   




Masjid Dimaukom ini berada di  Datu Saudi Ampatuan (DSA) , yang merupakan kota kecil di provinsi Maguindanao, Filipina. 


Konon, pink adalah warna favorit dari istri sang pemilik masjid ini, karena mereka percaya bahwa pink adalah simbol kedamaian dan keharmonisan.


Masjid ini pembangunannya dilakukan pada tahun 2013 dan dibiayai oleh walikota setempat bernama  Samsodin Dimaukom yang namanya diabadikan menjadi nama masjid ini. Sedangkan pembangunannya dibantu oleh banyak sukarelawan yang beragama Kristen.


Mereka berharap dengan adanya masjid pink ini bisa memberi kedamaian dan keharmonisan di daerah sana. 


Pada hari raya Lebaran, masjid ini ramai oleh Jamaah . Mereka bahkan sampai sholat di luar bangunan masjid karena begitu banyaknya jamaah.







 






Rabu, 01 Juli 2015

Masjid Biru Yang Indah Dan Berarsitektur Klasik


Masjid Biru, begitulah nama untuk masjid yang sangat indah ini. Nama itu diberikan karena masjid ini berhiaskan ornamen dan keramik-keramik yang berwarna biru pada dinding, atap dan kubahnya dan bermotif daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris.



Keramik biru itu  berasal  dari  daerah Iznik , kawasan Turki yang terkenal menghasilkan keramik yang indah dan berkualitas .




Itu belum lagi  dengan begitu besar , luas dan megah bangunannya dengan sentuhan citra rasa seni yang tinggi.Masjid Biru memiliki  260 jendela , 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dengan tinggi kubah 43 meter,  dan kolom beton berdiameter 5 meter. 

 

Masjid  ini berada di Istanbul Turki dan  dibangun oleh Sultan Ahmed I yang berasal dari Dinasti Ottoman.Dinasti ini  menguasai Turki pada abad ke-14. Sedangkan Sultan Ahmed I berkuasa di Turki sejak  tahun 1603 – 1617.  

 
Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609  oleh Mehmed Aga, arsitek terkenal pada jaman itu dan selesai dibangun pada tahun 1616.



Yang menarik, Sultan Ahmaed I membangun masjid ini  untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru dan dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M .





Ada legenda yang berkembang di masyarakat , pada awalnya Sultan Ahmed I meminta kepada Mehmed Aga untuk membuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah “ altin ”. 


Ternyata sang arsitek salah mendengar. Ia mengira Sultan Ahmed I ingin memiliki masjid dengan 6 menara.  Hal ini karena kata enam dalam bahasa Turki bunyinya “ alti ” dan memang terdengar amat mirip dengan “ altin "  . Dan akhirnya dibangunlah masjid dengan 6 menara, bukannya 4 menara yang terbuat dari emas. 



Menyadari kekeliruannya, awalnya Mehmed Aga mengira kepalanya akan dipenggal oleh Sultan Ahmed I.  tetapi ketika pembangunan masjid ini  selesai, konon Sultan Ahmed I justru kagum  dengan desain 6 menara yang indah itu. 


Oya, tak jauh dari Masjid Biru ini terdapat museum Aya Sofya yang terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Ada juga istana Topkapi yang menyimpan beberapa peninggalan Rasulullah saw.


Masjid Biru ini menjadi jejak keindahan peradaban masa lampau yang masih tetap bertahan dan berfungsi sebagai tempat ibadah hingga saat ini.











Senin, 29 Juni 2015

Mitos Siluman Ular Putih Penghuni Danau


Ada banyak kisah yang legendaris dari negeri Tiongkok. Salah satunya adalah legenda siluman ular putih . Legenda itu menceritakan tentang  seekor siluman ular putih yang muncul di dunia untuk menjadi manusia. 


Konon, ular itu akhirnya berubah menjadi seorang wanita cantik. Ia pun menikah dengan seorang pria bernama Xu Xian dan dikaruniai seorang anak. Sayang, kehidupan beda dunia itu tidak disetujui seorang biksu bernama Fahai. Sang biksu pun menyekap siluman ular putih di bawah Pagoda Leifeng, yang terletak di Xi Hu alias West Lake.



Beberapa tahun kemudian, anak ular putih yang sudah dewasa bersaksi di depan pagoda untuk mengorbankan dirinya demi membebaskan ibunya. 


Para dewa mendengar dan menghancurkan pagoda. Akhirnya keluarga kecil itu pun kembali bersatu.



Yang menarik , legenda itu masih berkembang hingga saat ini. Terlihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke danau West Lake yang berada di Hangzhou, Cina. Mereka ada yang meyakini bahwa di danau itu masih ada siluman ular putih itu.


 

West Lake yang berpanorama indah dan seluas 5,6 km2 ini terbagi jadi beberapa kawasan. Yang terbesar adalah Outer Lake, yang dikelilingi oleh North Inner Lake, Yuehu Lake, West Inner Lake, dan Lesser South. 


Danau-danau ini diapit oleh perbukitan hijau dengan rumah peristirahatan para Kaisar dan pagoda-pagoda indah.
  


Wisatawan bisa berkeliling danau dengan menggunakan perahu yang melewati beberapa pulau buatan dengan nama-namanya yang indah. Di antaranya adalah Three Pools Mirroring the Moon, Solitary Hill, Two Peaks Embracing the Sky dan Temple of Soul's Retreat. 


Selain itu juga terdapat Broken Bridge, jembatan yang diyakini merupakan tempat bertemunya siluman ular putih dan Xu Xian.

 

Terlepas dari legenda siluman ular putih itu, West Lake ini memang menarik untuk dikunjungi. Terlebih berada di sana kala fajar atau senja, panoramanya bagai lukisan alam yang tak bertepi.








Minggu, 28 Juni 2015

Jejak Sejarah Jepang Di Museum Layang-layang

Bermain layang-layang tentu sangat menyenangkan. Apalagi jika aneka aneka bentuk dan ukuran layang-layang itu bisa terbang dengan tenang di angkasa. Keberadaan layang-layang itu ternyata tak hanya sebagai media untuk bermain saja. Tetapi juga merupakan saksi dan jejak sejarah yang sudah ada sejak masa lampau.



Begitulah dengan koleksi yang ada di Museum Layang-layang di kota Tokyo - Jepang. Layang-layang itu mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah Jepang. Konon, layang-layang pada masa lampau juga pernah digunakan sebagai mata-mata atau pemberi tanda untuk mengintai keberadaan dan pergerakan musuh.


Dalam berbagai ritual keagamaan, layang-layang juga digunakan sebagai penyampaian bentuk permohonan maupun doa dalam agama Shinto.



Dalam bahasa Jepang, museum ini bernama Tako-no-Hakubutsukan atau yang lebih populer disebut dengan Kite Museum (Museum Layang-Layang).Museum ini  didirikan pada tahun 1977 dan menyimpan sekitar 3.500 koleksi layang-layang dari Jepang dan negara-negara lainnya. Tetapi yang dipamerkan di museum hanya sekitar 400-500 layang-layang saja. 
 

Bangunan museum ini  berada di lantai 5 sebuah bangunan restoran yang juga dimiliki oleh sang pendiri Shingo Modegi. Bangunan itu jugga menjadi kantor pusatnya Japan Kite Association. 


Shingo Modegi, yang juga merupakan pecinta berat layang-layang itu  menggagas pembangunan sebuah museum  layang-layang denga harapan agar layang-layang tidak ditinggalkan oleh generasi muda.


Museum layang-layang ini menempati lokasi yang tidak begitu luas. Tetapi koleksi layang-layangnya cukup menarik dan berragam. Koleksi itu ada yang terpajang di dinding, meja atau digantungkan di langit-langit museum sehingga nuansa ruangannya tampak semarak dan penuh warna. 


Yang menarik, mayoritas layang-layang itu  memiliki warna yang kontras dengan desain-desain yang unik. Untuk layang-layang tradisional Jepang memiliki desain gambarn yang juga tradisional seperti hantu, samurai, binatang, geisha, naga, satwa dan lainnya. Beberapa diantaranya dilengkapi dengan tulisan Jepang . 


Ada juga layang-layang yang bergambar wajah sosok pendiri museum ini dan layang-layang karya Teizo Hashimoto yang merupakan seorang pembuat layang-layang ternama di Jepang. 

 
Oya, bila Anda berkunjung ke  Museum layang-layangini, jangan lupa sempatkan diri untuk mencicipi berbagai menu kuliner yang ditawarkan oleh restoran Tameiken yang ada di lantai 1. Restoran ini awalnya dikelola oleh Shingo Modegi dan kini diteruskan oleh putranya, yaitu Masaaki Modegi.