Jumat, 10 April 2015

Bukit Yang Berhias Ratusan Ribu Salib


Ada panorama yang unik dan berbeda di bukit itu. Jika biasanya daerah bukit ditumbuhi oleh pepohonan, semak dan rumput hijau yang asri, tidak demikian halnya dengan bukit yang dikenal dengan nama Hill Of Crosses atau Bukit Salib ini.



Sesuai dengan namanya, di bukit itu terdapat banyak salib yang terbuat dari berbagai bahan, bentuk dan ukuran. Jumlahnya konon sudah mencapai ratusan ribu salib karena setiap hari jumlahnya selalu bertambah seiring dengan banyaknya wisatawan yang datang ke sana dengan membawa dan memasang salib yang baru.



Bukit Salib ini berlokasi yang berjarak 12 Km dari  kota Siauliai di negara Lithuania bagian utara. Walau belum ada alasan yang jelas, konon  ratusan ribu salib yang ada di sana berfungsi sebagai tanda peringatan kemerdekaan negara Lithuania.

 

Selain salib dengan dengan berbagai bentuk ornamennya, di bukit itu juga banyak terdapat rosario dan foto Yesus dan Bunda Maria. Di bagian tengahnya ada juga patung Bunda Maria.
 

Ada banyak kisah memilukan yang terjadi di sana pada masa lampau. Di antaranya adalah kisah terjadinya musibah kebakaran gereja di sekitar pada abad ke-13.


Kisah lainnya tentang adanya dua tentara yang tewas di bukit tersebut saat pertempuran dan pemberontakan anti Soviet di Lithuania.


Sejak  tahun 1831 sampai 1863, pemberontakan melawan Soviet terjadi di Lithuania. Dalam  Perang Dunia II, Soviet telah menduduki Lithuania selama 50 tahun. Selama itu pula Soviet  sudah tiga kali berusaha meratakan bukit dan dan membuat parit di sekelilingnya. 


Soviet beranggapan bahwa penancapan salib di bukit itu adalah bentuk pelanggaran hukum yang berat. 

 
Tetapi walau begitu, masih ada banyak orang yang datang ke bukit itu dan menancapkan salib dan sebagainya di sana hingga Lithuania merdeka dari Soviet pada tahun 1991.



Yang menarik, banyak tokoh besar dunia yang datang ke bukit Salib . Di antaranya adalah kedatangan Paus Paulus II pada tahun 1993 dengan membawa dan menancapkan patung Kristus yang disalibkan.

 
Sejak saat itulah nama dan keberadaan Bukit Salib  ini dikenal oleh wisatawan dari berbagai negara.
 

Selain menyimak keunikan dan keindahannya, mereka ada yang datang untuk membuat foto-foto perkawinannya dengan berlatar belakang ratusan ribu salib.




















Kamis, 09 April 2015

Indahnya Cahaya Gemerlap Di Hutan Lampu

Hutan Lampu , begitulah nama yang bisa diberikan pada destinasi wisata yang satu ini. Sesuai dengan namanya, di sana bisa dijumpai aneka pohon dalam berbagai bentuk yang tampak unik karena beraneka warna dan berkelap-kelip.


Tak hanya pohon, aneka bunga dan satwa lainnya juga tampak gemerlap dan bercahaya. Berada di sana seolah membawa kita berada di negeri dongeng karena apa yang ada di sana bisa menyala dengan begitu indahnya. 


Begitulah suasana yang ada di I-City yang berada di Kota Shah Alam , Selangor - Malaysia yang merupakan destinasi wisata dengan memanfaatkan tekhnologi lampu digital yang modern dan canggih. 


Pengunjung bisa masuk dan parkir ke kawasan yang buka dari pukul 20.00 hingga pukul 03.00 ini secara gratis. Mereka baru membayar tiket jika ingin masuk dan menggunakan  aneka wahana permainannya.



I-City ini terbagi menjadi 3 lokasi yaitu City of Digital Lights yang di dalamnya terdapat wahana super swing, two tier carousel, magical christmas, spacewalk, desert trail, circus travel, giant ferris wheel, pirate ship dan jungle track. 


Lokasi yang kedua adalah Water World dan Snow Walk yang terdapat LED screen, tornado ride, river adventure, spiral slides, aladdins adventure, giant jacuzzi, rainbow racer slides, ice age, north pole adventure dan water futsal.


Sedangkan lokasi ketiga adalah Fun World and City Walk yang menampilkan wahana 5D cinema, choo choo train, amusement ride, children traffic park dan bumper cars,  kids world, house of horror, trick art museum dan lainnya.


Hal yang paling menonjol di kawasan ini adalah adanya pohon-pohon dan bunga-bunga yang bercahaya aneka warna. Dengan pengunjung berlalu lalang di antara pepohonan digital itu menampilkan panorama yang indah dan menawan.


Wisata terpadu I-City ini berlokasi di Jalan Multimedia 7/AG 40000 Shah Alam, Selangor - Malaysia. Gemerlapnya cahaya di sana sepintas mengingatkan saya pada gemerlap cahaya Taman Pelangi di kota Yogyakarta.








Senin, 06 April 2015

Menelusuri Deretan Jenazah Yang Menyeramkan Di Italia

Bagi banyak orang, di satu sisi mayat atau jenazah tentu sangat menyeramkan. Ada aneka kisah mistis dan magis berkaitan dengan jenazah itu. Tetapi di sisi lainnya, ternyata ada juga jenazah yang justru menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan untuk mengunjunginya. 


Tak hanya ada satu jenazah saja, tetapi ada ribuan jenazah yang bisa dijumpai dalam berbagai umur, ekspresi,pose  dan pakaian.



Wisata itu bernama  Catacombs Capuchins of Palermo yang berada di Catacombs, Palermo , Sisilia - Italia. Di sana terdapat deretan jenazah yang dipajang di sisi lorong-lorong ruangan bawah tanah yang ditempatkan dalam posisi berdiri, menggantung, tidur atau ditempatkan dalam peti mati.


Pada awalnya Catacombs Capuchins ini  merupakan sebuah biara di abad ke-16 sampai biarawan di sana mulai menggali kriptus di bawahnya. Pada tahun 1599,  saudara dari biarawan Silvestro dari Gubbio meninggal  dan jenazahnya dijadikan mumi dan disimpan di dalam Catacombs. Sejak saat itulah Catacombs Capuchin mulai dijadikan tempat untuk menaruh mayat para biarawan.


Semula, tempat ini dikhususkan untuk menyimpan jenazah biarawan saja. Tetapi dalam perkembangannya, ada banyak orang luar biara yang juga ingin dimakamkan di sana saat mereka meninggal. Bahkan mereka ada yang berwasiat  dengan mengenakan pakaian tertentu, atau bahkan mengubah pakaian mereka pada hari-hari tertentu. 


Di antara jenazah itu ada jenazah seorang anak perempuan berusia 2 tahunyang bernama Rosalia Lombardo yang terawetkan secara sempurna. 
 

Jenazah itu setelah diteliti dengan sinar X tampak unik dan berbeda karena ketika jenazah lain harus didandani dengan menambahkan rambut dan atribut lainnya, tetapi jenazah bocah ini pada rambut pirang ikal dan organ tubuh jenazah terawetkan secara sempurna .


Pose bocah itu sedang tertidur dengan bulu matanya yang berwarna coklat. Karena kesedihan yang mendalam, ayah sang bayi meminta seorang pembalsem terkenal Alfredo Salafia untuk mengawetkan anak itu yang meninggal karena terserang pneumonia pada tahun 1920. 







Jumat, 03 April 2015

Gua Es Yang Menakjubkan Di Skaftafell

Selama ini gua identik dengan stalaktatit dan stalakmit dari batu biasa saja seperti yang biasa kita jumpai dalam gua pada umumnya. Tetapi gua yang satu ini sangat unik dan berbeda. Betapa tidak, hampir semua bagian dalam gua ini terbuat dari es.



Tak semua orang bisa masuk dan menelusuri ke dalam gua ini. Butuh pengalaman, ketrampilan dan peralatan khusus karena medan perjalanan yang harus dilalui berupa es yang permukaannya licin. Belum lagi dengan lokasinya yang sangat terpencil dan dinginnya suasana di sana.



Gua yang indah dan unik ini berada di laguna beku gletser Svínafellsjökull di Skaftafell, Islandia. Gua ini dapat diakses melalui pintu masuk berjarak 22 kaki dari garis pantai. Panorama gua ini tampak menakjubkan dilihat dari bagian dalam gua. 



Warna biru lautnya menjadi ciri khasnya tersendiri. Berjalan dengan menyusuri gua ini seolah berada di dalam laut dengan gelombang airnya yang membeku.
 

Gua es ini adalah struktur sementara yang muncul di tepian gletser. Es yang telah berusia ratusan tahun menuruni lereng Öræfajökull melalui gletser Svínafellsjökull dan telah bermetamorfosis menjadi  es gletser yang bertekanan tinggi dan hampir tidak berisi gelembung udara.


Karena minimnya udara itu menyebabkan menyerap semua cahaya yang masuk ke dalam gua kecuali cahaya berwarna biru. Tetapi es berwarna biru ini hanya dapat dilihat dalam kondisi tertentu yaitu pada  musim dingin setelah lama hujan dan ketika lapisan permukaan gletser telah hanyut. 


Gua es gletser ini terbetuk dari hasil proses glasial, dimana hujan melelehkan air di permukaan gletser tersebut dan kemudian disalurkan ke sungai yang masuk ke gletser melalui celah-celah. Air terjun yang mencair pada lubang gletser sementara genangan air mengalir kebawah dan membentuk gua es. 


Sementara itu, sedimen berbutir halus yang ada di dalam air menyebabkan aliran air lelehan berlumpur  dan pada bagian atas gua menunjukkan warna biru. 


Karena gerakan kecepatan gletser dari sekitar 1 m per hari, es gua ini retak di ujungnya, es pada ujung gua ini retak pada ujungnya.



Walau tampak indah dan menakjubkan, tetapi karena terbuat dari air yang membeku, gua es ini bisa runtuh dan meleleh sewaktu-waktu. 


Sungguh tak bisa terbayangkan bagaimana akibatnya jika suatu ketika ada banyak wisatawan berada di dalam gua dan saat itu terjadi musibah alam yang meruntuhkan gua ini. 

















Rabu, 01 April 2015

Indahnya Kunang-Kunang Di Dalam Gua

Waitomo Glowworm Caves adalah nama gua yang sangat indah itu. Sesuai dengan namanya, di dalam gua itu hidup jutaan ekor kunang-kunang yang bercahaya dengan warna hijau kebiruan. 


Kunang-kunang itu hidup dengan bergantungan dan berterbangan di dalam gua.  Pada tubuh dan ekor kunang-kunang itu terdapat zat tertentu yang bisa berpendar dan bercahaya dalam kegelapan. 


Karena begitu banyaknya, kunang-kunang itu bagaikan lampu-lampu kecil yang cahayanya berkelap-kelip menerangi dalam gua. Berpadu dengan gelapnya suasana dalam gua menjadikan panoramanya tampak kontras tapi harmonis. 


Di dalam gua ini juga mengalir sungai yang bisa diarungi oleh wisatawan dengan menggunakan perahu kecil. Dengan ditemani oleh sang pemandu, wisatawan diajak berkeliling menyusuri sungai itu untuk menikmati keindahan gua. Berada di sana seolah membawa kita masuk dan berada di negeri dongeng.


The Waitomo Glowworm Caves berada di kota Waitomo - New Zealand pertama kali dieksplorasi pada tahun 1887 oleh Kepala Maori lokal yang bernama Tane Tinorau dengan disertai  surveyor Inggris yang bernama Fred Mace.  


Orang Maori sebagai warga setempat sebenarnya sudah mengetahui tentang keberadaan Gua Kunang-kunang, tetapi mereka tidak pernah masuk dan mengeksplorasi gua yang unik ini sampai dengan kedatangan Fred dan Tane yang masuk ke dalam gua dan menyelidikinya. 
 

Saat itu mereka membangun rakit dari batang pohon rami batang dan dengan cahaya lilin di tangan, mereka kemudian masuk dan menyusuri gua ini. Tertarik dengan pesona keindahan di dalam gua, mereka kemudian datang kembali dan mengadakan eksplorasi lebih lanjut.

 
Pada tahun 1889 , Tane Tinorau membuka gua ini untuk wisatawan.  Karena pada tahun 1906 , administrasi dan pengelolaan gua diambil alih oleh pemerintah, mereka kemudian menerima persentase dari pendapatan gua dan terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan gua.
 

Seperti The Waitomo Glowworm Caves , tempat-tempat lain di mana hewan bioluminescent dapat dijumpai  adalah Toyama Bay di Jepang dan Gippsland Lakes di Australia.










Senin, 30 Maret 2015

Candi Yang Unik Dalam Cengkeraman Akar Pohon

Candi itu tampak cukup menyeramkan. Banyak jamur, lumut dan kerak pada dinding bangunannya. Batu-batu candi yang berserakan dengan pepohonan yang besar dan rindang di sekitarnya semakin menambah seramnya suasana.


Tetapi ada yang menarik dengan candi itu karena dalam cengkeraman akar pohon besar yang menaunginya. Entah sejak kapan dan bagaimana bisa pohon itu bisa tumbuh dari dalam bangunan candi dan tetap bertahan hingga saat ini.


Keunikan itu bisa dijumpai di Angkor Wat, situs candi kuno yang ada di kota Angkor - Kamboja. Angkor Wat dibangun selama 30 tahun pada saat berkuasanya Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke 12. Candi dibangun sebagai persembahan dan pemuliaan pada Dewa Wisnu.



Yang menarik, candi ini pada awalnya adalah candi Hindu. tetapi sejak akhir abad ke 13, Angkor Wat kemudian  beralih fungsi menjadi candi Buddha Theravada dan berlangsung hingga kini. Nama Angor Wat sendiri bukanlah nama asli candi , tetapi merupakan nama lokal. Hal ini karena prasasti pembangunan candi yang tercantum nama candi ini belum ditemukan.



Angkor Wat memiliki gaya bangunan dengan arsitektur klasik khas Khmer. Bahan pembuatnya bukan dari batu batu bata dan  laterit, tetapi dengan batu pasir.Sebagian besar kawasan candi ini pada bagian yang terlihat menggunakan blok batu pasir. Sedangkan untuk dinding luar dan untuk bagian struktural yang tersembunyi menggunakan laterit.


Arsitektur bangunan candi memiliki elemen unsur-unsur dan ciri-ciri yang meliputi: ogival yaitu  menara dengan bentuk bergelombang seperti kuncup teratai;  galeri yang memperluas dan menghias lorong-lorong; galeri aksial yang menghubungkan pagar; dan teras berbentuk palang yang terdapat di sepanjang bagian utama candi tersebut. 



Sayang, elemen-elemen lainnya seperti stuko berlapis emas pada menara, penyepuhan pada beberapa figur di relief dasar, dan panel langit-langit dan pintu kayu.


Relief-relief tentang kisah Ramayana dan Mahabaratha banyak menghiasi dinding candi. Ada jga relief Raja Suryawarman II.Sedangkan untuk dinding luar  yang berukuran 1024 m  x 802 m dan ketinggian 4,5 m dikelilingi oleh halaman terbuka sepanjang 30 m dan parit seluas 190 m. 


Akses masuk ke candi  melalui tepian ke timur dan jalan lintas dengan bahanbatu pasir ke barat.



Terdapat gapura pada empat arah mata angin. Pada gapura sebelah barat erdapat gapura yang paling besar dan memiliki tiga reruntuhan menara.   Sedangkan di bawah menara selatan terdapat patung Wisnu, yang juga dikenal sebagai Ta Reach.